Jumat, 14 Desember 2012

Jatuh Bangun

Seperti judul lagu dangdut yang dinyanyikan lagu Kristina ya? 
tapi bukan itu yang mau saya ulas.
Tak banyak yang akan saya jabarkan. tapi coba renungkan.

Mengapa kita harus terjatuh?
Mengapa kita harus terbangun?

tahukah kamu jawabannya kawan?
saya tidak bermaksud menggurui siapapun, ini juga cara saya untuk bisa memulihkan jiwa.
  • Mengapa kita harus terjatuh?
terjatuh adalah pembelajaran, ibaratnya ketika kita belajar naek sepeda, pasti yang namanya terjatuh sampai berdarah-darah kaki dan tangan kita karna lecet. terjatuh adalah pembelajaran buat kita, semua hal yang kita inginkan tak semudah membalik telapak tangan, perlu usaha dan acapkali orang sukses yang biografinya membuat kita yang membaca selalu berdecak kagum, dan kadang-kadang mengeyampingkan bahwa mereka sebenarnya pasti dan hampir kesemuanya pernah jatuh bangun dalam hidupnya. Lihatlah dari berbagai sisi.
  • Mengapa kita harus terbangun
Setiap manusia, besar kecil pastilah tak pernah luput dari ujian Tuhan. terlepas itu ringan atau tidak, Tuhan memberikan ujian untuk menaikkan derajat ketaqwaan kita pada sang Pencipta. klise memang, tapi ini tak semudah membalik telapak tangan. terbangun untuk melanjutkan sesuatu baik itu yang tertunda maupun yang sedang mau dimulai. Hidup akan terus berjalan selama nyawa ini melekat di raga. Bangun, dan lakukan sesuatu, Jangan katakan Tidak sebelum pernah mencobanya. Bangunlah.

Kita pasti bisa, jangan pernah katakan Tidak bisa, jika belum pernah mencoba. Rumput Tetangga selalu lebih baik (dimata kita) kawan, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi didalamnya. Banyak-banyaklah bersyukur.

"Allah, Memberi Apa yang Kita Butuhkan 
bukan Apa yang Kita Inginkan"


-RieN-

Rabu, 12 Desember 2012

Bersabarlah, Jodoh (Pasti Akan) Datang

Ketika semua berlomba-lomba untuk menyempurnakan separuh Agama alias menikah, bukan berarti saya tidak terusik atau sekedar acuh tak acuh untuk tidak terlecut segera mengakhiri masa lajang.

Bukan hanya urusan siap tidak siap menikah, dan bukan perkara mudah dan kesenangan sesaat atau sekedar gengsi di cap tidak laku oleh orang-orang disekitar.

Saya sedang bergulat dengan berbagai pemikiran, dengan berbagai bombardir pertanyaan yang makin lama terasa bukan suatu pertanyaan, hingga terkadang merasakan  sebuah penghakiman dan cap tidak lakunya sebagai manusia yang belum berpasangan, dan terkadang dari nada dan raut wajah semacam menampakkan belas kasihan. Bisa saja itu perasaan saya saja, semoga begitu.

Mungkin postingan ini berbau curcolan, tapi juga mewakili dari golongan orang-orang bernasip sama, hanya saja mungkin mereka ada yang larut dalam kesedihan alias galau atau mereka memang malas untuk memikirkan sebuah komitmen. True or false, semua tergantung pilihan.

Seberapa pentingkah menikah itu? Jawabannya penting, menjaga kehormatan wanita, memuliakan wanita, menyempurnakan agama, dan menjalani sunnah Rasul.

Beberapa Hadist dan Ayat Al-qur'an tentang Pernikahan :



“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”
(Ar-Ruum 21) 

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”

(An Nuur 32)

 “Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu
menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih
terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud) 

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka,
bukan golonganku”
(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)  

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu :
berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan
menikah”
(HR. Tirmidzi) 

Seperti Halnya dalam ayat-ayat tersebut, Menikah adalah Sunnah Rasul, dan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah, pahalanya berlipat-lipat.

Kondisinya tidak semudah membalik telapak tangan, atau semudah kita melambaikan tangan. Tidak sesederhana itu, tapi juga tidak serumit kalkulus atau sesulit menemukan obat untuk HIV.

Semuanya akan tampak sederhana, jika kita dan sekitarnya memiliki pola yg sederhana, jangan membuat pemikiran-pemikiran buruk dan tampak akan semakin sulit, jika kita dan sekitarnya memiliki pola yang gak ada ujungnya banyak alasan. Kompleks seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Tinggal kita memilih, mana yang mau kita jalani.

Bosan juga dikasih pertanyaan-pertanyaan, yang gak ada habisnya. Untuk semua yang belum menikah, pantaskan diri, pantaskan pada Allah SWT, kita layak untuk dimudahkan Menikah dan Urusan lainnya. Semoga Allah senantiasa memberi kita yang terbaik. Dan untuk yang menikah, bantulah teman-teman yang belum menikah, minimal doakan mereka, untuk tetap Semangat dan tegar menemukan Jodoh yang terbaik. Amien Ya Robbal Al Amien.

Selasa, 28 Juni 2011

Hadiah dari Setiap Kegagalan

Not Found. sudah beberapa kali saya menemukan kata-kata ini disetiap ujian-ujian yang saya ikuti. Intinya saya TIDAK LOLOS. Mulai dari Gagal Administrasi, Gagal TKU (tes kemampuan Umum), Gagal TPA (tes pengetahuan akademik), gagal psikotes, kesehatan, dan tes wawancara saya pernah. (pernah gagal maksudnya)

Bosan, mungkin itu yang sedang saya rasakan. saya bosan mencoba peruntungan memperbaiki nasib untuk mencari sebuah investasi masa depan (ini menurut Ortu). Bosan browshing loker kesana-kemari, bosan mengumpulkan berkas-berkas yang diminta, bosan mengirimkan lamaran-lamaran yang diminta, Bosan Mengeluarkan uang (yang kadang-kadang saya rasakan sia-sia), Bosan belajar, Bosan menunggu, dan saya Bosan GAGAL. (untungnya saya tidak pernah Bosan untuk hidup)

Sudah berapa banyak, Amplop lamaran yang saya layangkan ke meja kantor pos? sudah berapa banyak uang yang saya keluarkan untuk mempersiapkan itu semua? sudah berapa banyak saya merasakan kegagalan? dan sudah berapa banyak laen-laennyalah. inilah pertanyaan ego yang selalu merasa dirugikan dan ketidak ikhlasan saya. Pertanyaan-pertanyan apabila saya khilaf, saya sadar semua Wilayah Rizky adalah wilayah Allah.
Dan baru saya sadari, Allah selalu memberi Nikmat disetiap peristiwa. seburuk apapun peristiwa yang kita alami, pasti ada Hikmah yang didapat, setiap saya bermuhasabah (Intropeksi diri) disetiap kegagalan, saya menemukan Hikmah, Belajar Ikhlas, Belajar untuk semakin menjadi pintar, Belajar untuk Bangkit dari jatuh, Belajar Mengenal Medan pertempuran, Belajar Bahwa Perjuangan Tanpa Batas, Belajar untuk Tersenyum disaat jatuh, Belajar Memotivasi Diri, dan Belajar Mengenal Orang Baru (setiap Ujian yang diikuti, saya menemukan teman, teman share baru).
Lantas apa yang harus saya tuntut kalo sudah begini? Hadiah dari setiap kegagalan bukti bahwasanya saya tidak layak bermuram durjana, berkeluh kesah, dan merasa tak adil. satu hal untuk menyentil saya

"Jika Kamu Gagal pertanda Kamu belum layak, jika menginginkan menjadi orang pilihan berusahalah melebihi permintaanmu pada Tuhan"

Nb : Sedang berproses menguatkan Semangat untuk tidak pernah padam
"Allah Tidak Melihat Hasil yang didapat, tetapi Allah menilai Prosesnya"


By : aRieNers

Balada Pengemis

Di sebuah persimpangan jalan yang sering saya lewati menuju rumah, sering saya jumpai seorang anak kecil yang mengemis. Entah mengapa hari ini tiba-tiba saya ingat pada dia. Yang sampai sekarang terus ada adalah perasaan kasihan dan prihatin dengan anak kecil itu.

Pada awal melihatnya, saya benar-benar simpati dan langsung mengambil uang lembaran lima ribu di dompet. Wajahnya sayu dengan mata yang tajam, kaos oblong, tanpa alas kaki duduk di pembatas tengah jalan, dan ketika lampu merah menyala ia langsung berdiri dan mulai mendekati kendaraan satu persatu.

Saya juga sering berdoa agar ia di berikan rezeki yang banyak agar ia tidak jadi pengemis lagi.

Dengan intensitas saya melewati persimpangan itu semakin meningkat dan terlalu seringnya melihat pengemis itu, tiba-tiba rasa kasihan itu memudar berubah menjadi rasa cuek. Hati saya semakin keras. Beberapa kali saya hanya melewatinya begitu saja. Apakah saya sudah berubah menjadi hal yang saya takuti selama ini ? yaitu menjadi orang yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar.

Banyak pembenaran yang mengusik nurani ini, bila pengemis itu selalu di beri uang maka dia akan selamanya jadi pengemis karena ia menemukan enaknya jadi pengemis, dengan pasang wajah sayu, pakai baju kumal, dan menengadahkan tangan lalu dapat uang, bukan pembelajaran yang baik. Itu kilah saya.

Saya juga jadi ingat, waktu saya naik mobil sedan bersama pacar, ada pengemis, saya dan pacar mencari uang ribuan di dompet kebetulan tidak ada sama sekali, hanya ada uang seratus perak di dasbor, terpaksa di berikan ke pengemis. Saya terkejut juga, setelah di lihat si pengemis ternyata uang receh lalu ia kembalikan ke pacar saya. Pengemis menolak uang seratus perak. Saya minta maaf sama Tuhan.

Apa pun itu saya tidak ingin kepedulian saya dengan lingkungan sekitar saya terkikis bahkan mati, begitu juga anda kan ?
Lewat pengemis ini pun saya juga bisa ambil pelajaran, kalau memberi seadanya saja karena kita tidak tahu keadaan sebenarnya pengemis itu, dan kalau ingin memberi yang sebesar-besarnya lebih baik ke panti asuhan atau lembaga sedekah yang terpecaya atau kepada orang-orang yang kita benar-benar tahu agar tepat sasaran.

Pengalaman dari tulisan ini semoga memberi pengaruh agar kita peduli terhadap lingkungan kita.

Jumat, 10 Juni 2011

Pengamen tua


Suatu kali, sepulang kerja, ketika menaiki bus tarif biasa, saya berjumpa kembali dengan pengamen jalanan yang terakhir saya temui setahun yang lalu. Perawakannya semakin tua, uban-nya makin banyak, tapi dengan gitar yang sama. Betapa umur tidak pernah berbohong.

Yang berkesan dari pengamen ini adalah dia tidak menyanyi tapi lebih tepatnya meracau, sepenggal-penggal lagu di gabung menjadi satu dengan tidak ada nada gitar sama sekali alias tidak memakai chord apapun, dari awal hingga akhir ya satu saja chord-nya dan terus di genjreng. Hasilnya banyak orang tertarik melihat paling tidak menoleh dan akhirnya tersenyum karena standar-nya seorang pengamen di bus itu mendendangkan beberapa lagu dengan tuntas dan penuh harmoni, nah ini benar-benar di luar standar dan kebiasaan. Tidak di sangka pengamen itu meraup banyak rejeki kala itu.

Sang pengamen sedang bersiap dan minta izin pada sopir, kernet dan kondektur. Saya juga bersiap. Genjreng-an pertama... kedua... muncullah lagu maria mercedes... dan sepenggal-penggal lagu lainnya.

Anehnya, saya tidak tersenyum lagi seperti terakhir melihat performance-nya. Beberapa orang tertarik menoleh siapa yang ngamen ini yah... tapi saya tidak tertarik sama sekali. Apakah saya terlalu sombong dengan kemampuan saya bermain musik hingga meremehkan orang lain ? tidak seharusnya seperti itu... entahlah...

Selama perjalanan yang biasanya saya tertidur tapi kali ini masih berfikir apa yang membuat saya tidak menemukan rasa itu lagi. Tibalah saya mengambil kesimpulan, setahun yang lalu saya berjumpa dengan pengamen ini dengan cara yang sama dan gaya yang sama pula dengan yang saya lihat kali ini, tidak ada perbedaan sama sekali pada isi dan materinya, alias tidak ada improvement sama sekali.

Sudah sifat dasar manusia mencari sesuatu yang berbeda setiap saat, tatanan rumah-pun sering berganti-ganti agar tidak bosan, tidak monoton, begitu pula dengan kreatifitas, harus terus berjalan dan berputar, berganti hari demi hari bahkan hingga hitungan detik.

Dan perasaan dan pikiran saya pun harus segera di refresh, di improve agar saya sendiri tidak bosan dengan hidup saya. Berapa banyak orang yang merasa kecil, tersingkir dan bosan dengan hidupnya, mungkin juga karena tidak ada perubahan yang signifikan pada hidupnya.

Saya di sini sedang me-refresh dan meng-improve lewat tulisan ini. Bagaimana dengan anda ?

Selasa, 10 Mei 2011

Warung Nasi Tanpa Nama


Ketika duduk di meja belajar dan baca-baca buku ilmiah yang membosankan tiba-tiba terpikir sebuah kisah yang pernah ada dan sempat terlupakan. Akhirnya saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang remaja yang merasa “terpaksa” membantu pekerjaan orang tuanya. Disaat kebanyakan temannya sedang gegap gempita merayakan kelulusan SMA dan sedang sibuk-sibuknya mendaftar ke universitas-unversitas favorit mereka atau menyiapkan segala sesuatunya untuk merubah status yang sebelumnya pelajar menjadi status yang bergengsi yaitu “mahasiswa” hingga kepuasan karena sudah bisa di anggap “dewasa” yang artinya berhak menentukan pilihannya sendiri, tapi seorang remaja itu masih terjebak di suatu tempat, masih harus menjalani yang bukan pilihannya, dan masih belum jelas statusnya. Di sebuah warung nasi yang berada di dalam sebuah pasar besar di kota kelahirannya, ditempat ratusan juta rupiah uang berputar dalam suatu transaksi di tiap harinya, di tempat berbagai etnis mencoba mencari rizeki dengan berjualan dan tempat berbagai macam barang mulai dari yang asli sampai yang tidak tahu asal muasalnya. Ya, remaja itu sedang di Pasar Besar, membantu orang tuanya berjualan di sebuah warung nasi.

Setiap hari ibunya memasak, mulai pagi buta sudah ke pasar untuk beli bahan dengan di antar oleh suaminya, seorang bapak yang sabar dan setia. Setiap pagi pula remaja itu membantu sebisanya menyiapkan apa yang akan di bawa ke pasar. Biasanya ibu dan barang-barang yang di perlukan di angkut naik becak ke pasar, sedangkan si remaja dan bapaknya berboncengan naik motor menuju ke pasar dahulu untuk membuka warung dan menyiapkan peralatan yang di perlukan sekaligus bersih-bersih. Tidak lama, ibu tiba di pasar. Si remaja itu selalu khawatir ketika ibu dan bapaknya menaiki ataupun menuruni tiap anak tangga yang ada di pasar ini. Terlalu curam dan jarak lantai yang pendek. Dengan membantu ibunya, si remaja membawa barang bawaan itu dan menaruhnya di warung.

Dan haripun dimulai, ibu meracik makanan, bapak menyeduh minuman, dan si remaja kebagian delivery service ke tiap orang atau toko yang memesan. Tak hanya itu si remaja juga harus bertugas tidak resmi mengambil kembali piring dan gelas yang sudah di pesan hingga melakukan transaksi di tempat, kadang ia sampai jongkok-jongkok tidak karuan untuk mengambil piring yang di selipkan di bawah kolong etalase toko. Tampak ia merasa malu saat itu, ia tidak seharusnya di rendahkan seperti ini, pikirnya. Mungkin karena sang bapak kasihan melihat anak lelakinya, beliau juga ikut membantu mengambil piring, dan ketika si remaja itu melihat bapaknya di salah satu sudut toko sampai jongkok untuk mengambil piring seperti yang tadi ia lakukan, hatinya teriris, tersayat dan panas di sekujur tubuhnya melihat orang yang di sayanginya melakukan hal itu. Ia menaikkan tempo langkahnya. Menghampiri bapaknya. Mengambil piring yang ada di genggaman bapaknya. Dan berlalu.

Di toko, si remaja berbicara ke bapaknya, “biar saya saja yang ambil piringnya…” dan bapak pun menjawab, “sudahlah… sudah biasa kok…”

Sejak saat itu si remaja berfikir keras untuk bisa membagi waktunya. Waktu untuk bisa membantu orang tuanya. Sempat terbesit untuk tidak melanjutkan ke bangku kuliah, tapi itu bukan jalan keluar. Akhirnya ia kuliah diploma yang cukup singkat hingga bisa berharap untuk segera bekerja dan bisa membantu orang tua. Di masa itu, sebelum berangkat maupun sepulang kuliah di sempatkan untuk ke warung, entah untuk ambil piring atau ambil air sampai cuci piring. Meski di hatinya masih tidak ikhlas dan tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Menahan rasa malu, mencoba tersenyum meski sering ada omongan tidak enak tentang rasa masakannya, hingga rasa jijik ketika menjumpai beberapa orang yang mempunyai cara makan di luar etika. Bapak dan ibunya mungkin sudah merasakan ketidaknyamanan itu dari pancaran wajah anak lelakinya itu. Setelah satu tahun, mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak warungnya.

Si remaja sempat bertanya, “kenapa… tidak di perpanjang kontrakannya…?” dan ibu pun menjawab, “ya ndak apa-apa… sudah capek..”

Kalau sempat di pikir ulang, hidup kita ini terdiri dari beberapa bagian penting. Semuanya menjadi satu dalam sebuah kisah yang harmonis, persis seperti kisah petualangan yang ada di film. Nah… kisah diatas adalah kisah petualangan dalam salah satu bagian dari perjalanan hidup dan dengan bangga saya perkenalkan bahwa remaja itu adalah saya sendiri.

Seorang yang minder dan sempat merasa malu dengan apa yang dikerjakan kedua orang tuanya itu sekarang merasa bangga karena masih di perkenankan Tuhan mengalami babak hidup seperti itu. Secara tidak sadar itu membentuk karakter saya saat ini. Bahwa kita tidak seharusnya memandang dari sisi pekerjaan apa yang di lakukan, sepanjang itu halal maka itu harus di hargai.

Saya belajar sering mengucapkan kata “terima kasih” pada siapapun dengan pertolongan sekecil apapun karena saya percaya bahwa kata itu mampu menjadi penghargaan terbesar bagi seseorang, karena saya pun senang minta ampun ketika saya mengambil piring dan ada yang berterima kasih.

Saya pun senang memberi senyum pada pelayan rumah makan atau apapun karena mereka membutuhkannya setelah sekian banyak umpatan bahkan cacian yang di terimanya hari itu dari pembeli atau dari manajer-nya. Satu kesalahan saya adalah saya jarang memberikan senyum saya pada kedua orang tua saya pada waktu itu.

Tentang apa yang kita kerjakan, dengan siapa kita berhadapan hingga untuk apa semua itu hanyalah kita dan Tuhan yang tahu. Selama kita berbuat sebaik mungkin, Tuhan akan melindungi kita.

Menjadi pribadi yang ikhlas dalam melakukan suatu hal baik itu memang tidak mudah, tapi itu bukan tidak mungkin untuk bisa di lakukan.